Berbeda agama itu tidak masalah


Berbeda agama seringkali menjadi salah satu alasan ketika sebuah hubungan menjadi retak. Apa iya, dua insan yang berbeda agama sangat sulit untuk bersatu apabila mempertahankan keyakinan masing-masing? Kalau  menurut gue sich, ini masalah yang simple, asalkan mereka mau berfikir lebih dalam dan meninggalkan ego masing-masing.

Asal Mula Agama

"Apa kamu percaya apa yang kamu percayai itu dapat terpercaya ?"

Jujur, gue gak tahu dengan pasti bagaimana agama itu bisa tercipta dan ada di dunia. Apakah agama itu tercipta seperti manusia, yang tiba-tiba sudah ada sejak dahulu kala ? Sepertinya tidak seperti itu.terciptanya sebuah agama maupun kepercayaan.

Agama itu adalah mutlak buatan manusia. Agama itu dapat gue definisikan sebagai usaha kita untuk meniru gaya hidup seseorang yang kita yakini bahwa Dialah sang penyelamat manusia yang tidak berdaya ini. Mengapa gue katakan meniru? Yup, dengan memeluk sebuah agama berarti kita berusaha melakukan segala sesuatu yang pernah dilakukan pendiri agama tersebut pernah lakukan di beberapa ratus tahun silam sehingga kita bisa memperoleh suatu pedoman / petunjuk di dalam menghadapi kematian. Setuju ?

Gue iseng-iseng berfikir, apabila manusia dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi setelah meninggal, apakah dia memerlukan yang namanya agama? Manusia mempercayai sebuah agama karena rasa ketakutan dia menghadapi kematian. Tapi tahukah kamu, kaum atheis (tidak mempercayai agama) memiliki pemikiran bahwa agama itu adalah hanyalah sesuatu yang dibuat manusia sehingga manusia memiliki ketakutan dan tidak hidup secara barbar. Kalau tidak ada agama, manusia tidak pernah takut untuk membunuh, manusia tidak pernah takut untuk mencuri dan manusia tidak dapat diatur hidupnya. Mereka lebih mementingkah rasa humanisme yang berlandaskan peduli  dan menghargai kebebasan sesama daripada agama dan fakta yang terjadi cukup mengejutkan, tingkat kejahatan di negara-negara atheis jauh lebih rendah daripada negara beragama. Benarkah pemikiran mereka itu ?

perbedaan agama
Berbeda Agama itu indah

Dan keisengan berfikir gue pun berlanjut, seandainya Sang Terpilih itu hidup di zaman sekarang, dapatkah kita mempercayai bahwa dia adalah orang yang terpilih ? Kita tentu masih ingat kejadian banyak orang yang mengaku sebagai titisan nabi atau titisan sang pencipta sekalipun, bagaimana bila mereka adalah benar titisan tersebut ? Dalam kenyataannya kita sudah tidak mengakui lagi agama lain kecuali 5 agama dasar dan beberapa kepercayaan di luar agama. Bagaimana kita dapat menangapinya ?

Berbeda itu indah

Berbeda itu indah

Gue gak pernah mau tahu agama mana yang paling benar atau agama mana yang paling baik. Bagi gue, semua agama sudah memiliki kotaknya masing-masing dan itu tidak bisa dilintasi dengan berusaha membandingkan satu sama lain. Semua agama itu adalah baik karena mengajarkan bagaimana kita menjaga hubungan dengan sang pencipta dan hubungan dengan sesama manusia yang berlandaskan CINTA KASIH bukan berlandaskan DENDAM.

Seandainya kelima pemimpin agama itu hidup di masa yang bersamaan, apakah kita masih mengenal perang yang berlandaskan perbedaan agama? Gue rasa tidak mungkin terjadi. Mereka Sang Terpilih, memiliki satu keyakinan bahwa ingin menciptakan dunia yang damai tanpa ada perang dimanapun, mereka lebih senang berunding dan mengasihi satu sama lain daripada harus ribut. Tetapi yang lucu adalah kita sebagai pengikut mereka, mengapa sering bertindak di luar itu dan mempermasalahkan hal yang malah dapat membuat perpecahan? Kita juga tidak akan mengenal istilah untuk mengkristenisasikan atau mengislamisasikan atau membudhisskan seseorang karena setiap orang memiliki hak asasi untuk memilih apa yang dia yakini tanpa keterpaksaan dari pihak lain.

Kembali ke masalah pasangan yang berbeda agama,  mengapa mereka berdua seringkali ribut karena masalah ini ? Bukankah agama itu hanya pedoman bagaimana mereka dapat menjalani hidup dengan rukun di tengah kerasnya dunia ? Mengapa manusia seringkali berusaha menghakimi sesamanya dan memutuskan itu adalah hal yang salah karena bertentangan dengan agama yang mereka yakini, Hey bukankah itu pekerjaan Sang Pencipta untuk menilai mana yang salah dan yang benar ?

Kita sering mendengar kata "Mengalah untuk menang", Mengapa kita tidak dapat mengalah di antara perbedaan iman kita karena segala sesuatu yang kita buat seharusnya berlandaskan cinta kasih bukan rasa untuk menghakimi yang lebih kuat ? Biarkan kita belajar dan melakukan segala sesuatu yang untuk cinta kasih terhadap sesama dan biarkan Sang Pencipta yang menilai apakah tindakan kita sudah benar atau salah.

Percayalah, seseorang yang terlalu ngotot untuk menghakimi atas dasar agama akan menjurus menjadi Fanatik. Kita tentu tahu dan dapat melihat dari bahwa pendukung fanatik sebuah club, akhirnya akan melakukan segala sesuatu yang anarkis dengan dasar cinta yang salah. Dan apa yang terjadi ? Club malah menghukum mereka untuk tidak kembali ke stadion dan club yang disayangi menjadi ternoda dengan kejadian anarkis yang dibuat mereka sehingga dijatuhi denda atau hukuman. Apa hal itu yang kita inginkan ? Kunci agar kita tidak terjebak menjadi fanatik adalah selalu berfikir bahwa apa yang kita yakini benar dan baik, belum tentu benar dan baik bagi sang pencipta.

Jangan biarkan perbedaan agama itu memisahkan mu tetapi dengan perbedaan agama itu, kita seharusnya dapat belajar lebih banyak lagi hal-hal baik yang dapat kita lakukan selama hidup sehingga kita dapat memancarkan cinta kasih kepada sesama kita dari apa yang kita perbuat. Jangan juga mempermasalahkan bagaimana cara dia berkomunikasi dengan Sang Penciptanya karena itu adalah keyakinan yang dimiliki bahwa dia dapat dekat dengan Sang Pencipta dengan cara tersebut. 

Gue sangat tidak setuju apabila seseorang pindah agama karena alasan menikah. Bagi gue, ini adalah tipe orang yang tidak setia, dia saja berani mengingkari janji dengan Sang Penciptanya, apa tidak mungkin dia dapat mengingkari pasangannya. Gue tidak melarang orang berpindah agama karena itu adalah proses misteri yang terjadi di dalam hidup setiap orang untuk menemukan keselamatan, tetapi proses itu butuh waktu bukan? Dan yang terpenting, keimanan itu harus hadir karena keinginan orang itu sendiri di dalam berkomunikasi dengan sang pencipta tanpa paksaan dari orang lain.

Sebagai penutup, gue sering bertanya kepada orang yang merasa bahwa agamanya adalah yang paling benar sehingga sering menghakimi orang lain :

1. Apabila agamamu yang paling benar dan hidupmu sudah tergolong suci, apakah kamu masih takut kepada Setan? Apabila tidak berani menghadapi setan  satu lawan satu, berarti kamu pengkhianat dong? Karena kamu takut kepada sang penciptamu tetapi takut juga kepada setan ? Kalau masih takut bertemu dengan setan, sebaiknya kamu tidak memaksakan kenyakinanmu kepada orang lain.

2.Menurutmu, apabila ada orang yang selama hidup berbuat baik tetapi di akhir hidupnya dia mencuri karena keterpaksaan, apakah dia dapat memasuki surga? Dan di sisi lain ada juga orang yang selama hidup sebagai pemerkosa dan pembunuh ,tetapi beberapa hari terakhir sebelum dia meninggal,  dia bertobat. Apakah orang ini pantas masuk ke dalam surga ? Hal ini tentu hanya dapat dijawab oleh Sang Pencipta dan kita sama sekali tidak memiliki kemampuan  untuk menentukan mana yang benar, mana yang salah. Mengapa selama kita hidup di dunia., kita harus menghakimi satu sama lain bahwa dia salah? Kita hanya diberikan kemampuan mengingatkan bukan menghakimi !

Ingatlah 2 pertanyaan di atas sehingga ketika kamu ingin memaksakan agamamu atau ingin mengadili pasanganmu dengan kacamata agama, kamu dapat tersadar bahwa kamu sama sekali tidak memiliki hak dan sadar bahwa berbeda agama itu indah.

5 comments:

G E N T O N G said...

wah diriku nggak setuju sama sekali, maaf nih kak :]
1. Pacaran beda agama itu kayak rel kereta api, selalu sejalan tapi nggak pernah bisa bersatu.
2. Kalau sampai ke jenjang pernikahan, dia berarti berpikiran sempit banget. Mikirin diri sendiri, nggak mikirin anaknya nanti gimana. Kasian loh anaknya nanti. Contohnya udah banyak, salah satunya temennya temenku. Kadang dia ikut ke gereja kalau minggu2 lagi suntuk ya meskipun di gereja nggak ngapa2in si, tapi kalau sedih dia ke masjid solat. Nah lo?!
3. Namanya pacaran, nikah, itu kita butuh pendamping jasmani maupun rohani. Kalau beda agama, secara jasmani mereke emang selalu berdampingan. Tapi secara rohani mereka sendirian. Kasian. Kalau sampai lanjut ke pernikahan, seumur hidup sebetulnya 'sendirian' loh. Syeraam >:]

Coco Wong said...

Hihihi gak perlu minta maaf kok, kan gak ada yang salah dengan mengutarakan pendapat. Semuanya bebas berpendapat dan membuang unek-unek di kloset kan ?

Tanggapan aku :
1. Walaupun rel kereta selalu berdampingan tetapi ada saatnya rel tersebut bersatu ketika di persimpangan rel kereta api. Benar kan ?

2. Bukannya agama itu adalah Hak Asasi Manusia yah, orang tua sebenarnya hanya diperbolehkan memperkenalkan agama tetapi tidak boleh memaksa anaknya untuk beragama sama dengan dirinya. Jadi mengapa harus dikasihani ?

Dan untuk kasus temanmu, mengapa dia harus ke gereja apabila dia ingin sholat, mengapa dia mengingkari imannya sendiri sehingga tersiksa sendiri di dalam kebohongan yang dibuat

3.Apabila kita dapat menerima agama lain di dalam kehidupan kita dan dapat menghormatinya, aku rasa ini tidak menjadi masalah. Kita sering didoktrin bahwa agama yang kita anut adalah terbaik tetapi sebenarnya kita tidak pernah tahu apa yang terbaik kan ? Kalau masalah sendirian, bukannya setelah mati kita dihakimi sendiri-sendiri bukan berdua atau rame-rame jadi mengapa mesti takut ?

Emang tulisan ini gue buat karena gue ingin melihat sisi lain dari sebuah masalah, orang seringkali menganggap beda agama itu adalah salah tetapi sebenarnya itu tidak salah apabila kita dapat membuka pikiran kita dan menerima ada agama lain di dalam kehidupan kita. Ini salah satu bentuk dari kerukunan beragama bukan ?

Aghnan Pramudihasan said...

Agama boleh beda tetapi jangan membuat perbedaan agama untuk diperdebatkan karena agama itu sebuah keyakinan.

Anonymous said...

Mengenai pacaran beda agama , yg katanya seperti rel kreta meskipun berdampingan tetapi tidak pernah menyatu. Memang benar bahwa rel kreta berdampingan ttapi mereka tdk pernah menyatu tetapi ingat bahwa mereka mempunyai tujuan yg sama , mereka dr brawal dn berakhir d tempat yg sama scra bersama , mereka melewati berabagai macam rintangan hujan panas siang malam dll scr bersama , mereka menopang beban(kereta) hingga sampai tujuan akhir jg secara bersama . Bagaimana bisa hal ini bs disebut "tidak bersatu" itu td ? Apakah bisa kereta dapat berjalan hanya dengan satu sisi rel saja ? .

wulan siska said...

Hello min, aku setuju banget sama postingannya, aku lagi ngejalanin cinta beda agama, aku smp saat ini masih mikir kalo aku sama dia bisa nikah dengan agama masing2, tapi dia gak bisa dan kasian anak nanti juga keluarga dari dua belah pihak akan ribet, padahal pemikiran aku itu ya kaya gitu juga, kita diciptakan oleh Tuhan yg sama, terus kenapa sekarang kita gak bisa bersatu karena perbedaan nama agama ?? Padahal Tuhan kita sama yaitu Allah, jujur min aku lagi sedih banget iniii

Post a Comment

Kloseter selalu meninggalkan jejak sebelum beranjak pergi...
Jangan Ragu-Ragu untuk beropini segala kegalauannya.